Minggu, 19 Februari 2012

Menyeimbangkan Tiga Faktor Sekaligus. Artikel Koran KEDAULATAN RAKYAT.



Menyeimbangkan Tiga Faktor Sekaligus.


Oleh:
Yustina Dwi Any Carlita Dewi, S.Pd.

Hasil pendidikan di sekolah sebagai salah satu aspek yang mempengaruhi karakter seseorang misalnya seperti nilai ketaatan terhadap Tuhan YME, sikap-sikap dalam diri yang positif, memperhatikan sesama dan lingkungan sekitar, menghargai keberagaman di Negara-nya. Pendidikan yang diajarkan di sekolah kebanyakan menunjang aspek kognitif siswa. Penghayatan dan pengamalan nilai dalam kehidupan sehari-hari adalah hal yang penting setelah siswa mengetahui teorinya / pengenalan secara kognitif.
Taksonomi oleh Benjamin S. Bloom tahun 1956. Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1.Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin.

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan karakter siswa dapat dilakukan secara rutin misalnya: untuk mengimplementasikan mata pelajaran agama, sekolah mengadakan ibadah bersama, peduli lingkungan: dengan mengadakan kerja bakti di area sekolah, peduli sosial dengan cara mengumpulkan pakaian pantas pakai atau pengumpulan dana untuk korban bencana ataupun bagi warga kurang mampu, implementasi mata pelajaran matematika dan akuntansi: pada acara tertentu mengadakan bazaar di sekolah yang dikelola siswa bekerjasama dengan pihak luar sehingga siswa bisa membuat pembukuan sekaligus berinteraksi dengan sesama, dll.
Kegiatan di sekolah akan memupuk rasa percaya diri siswa sehingga ketika siswa terjun ke lingkungan luar sekolah akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Memprihatinkan sekali jika mendengar pemberitaan yang akhir-akhir ini makin marak mengenai pelajar dengan seks bebas, miras, dan narkoba. Semua itu terjadi karena banyak faktor yang memicunya entah karena masalah keluarga, sekolah, lingkungan dan banyak lagi lainnya. Salah satunya kurangnya keterbukaan informasi yang diperoleh. Sekolah sebagai rumah kedua bagi anak seyogyanya memberikan fasilitas yang mereka butuhkan. Misalnya: pendidikan seks, pendidikan berlalu lintas yang baik dan benar; dengan cara sekolah mengadakan seminar rutin untuk memberi bekal pada siswa sejak dini dengan mengundang pakar dibidangnya sesuai materi yang diberikan.
Menurut penulis, pengetahuan saja tanpa implementasi hasilnya NOL. Totalitas potensi peserta didik perlu dikembangkan. Manusia yang hidup dengan kecerdasan kognitif yang begitu luar biasa, akan menjadi tidak sempurna bila kecerdasan emosinya tidak seimbang, tidak peka terhadap lingkungan sekitar, tidak memiliki moral yang baik.
Suatu pendidikan yang melakukan keseimbangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik diharapkan menciptakan lulusan-lulusan yang bermoral baik, kreatif, bertanggung jawab, cerdas, mampu mengimplementasikan ilmunya dalam dunia nyata.

*) Penulis adalah alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2000, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Studi Pendidikan Akuntansi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar